Sabtu, 03 September 2016

Tanteku Ryani


Oke, sudah jam 10 malam…
Akupun bergegas keluar dari kamarku, langsung melangkahkan kakiku menuju kamar tanteku.
Namaku Andi. Sedari kecil aku ikut dengan om ku karena mereka belum memiliki anak setelah cukup lama menikah, aku mempunyai rutinitas yang selalu dilakukan sebelum tidur malam. Aku biasanya akan mendapatkan ciuman selamat malam dari tante. Kadang di ruang keluarga sehabis menonton televisi, kadang tanteku yang datang ke kamarku, tapi lebih sering akulah yang mencarinya ke kamarnya untuk mendapatkan ciuman selamat malam darinya. Kebiasan mendapatkan ciuman selamat malam seperti itupun terus berlangsung hingga aku kelas 2 SMP seperti saat sekarang ini.
Tok tok tok…
“Tee…,” panggilku dari balik pintu kamar tanteku.
“Masuk aja nDi,” sahut tante. Akupun masuk ke dalam kamarnya. Kudapati tante sedang tiduran di atas tempat tidurnya sambil menonton tv. Tampak seluruh tubuhnya kecuali kepalanya sudah masuk ke dalam selimut
“Sudah mau tidur ya?”
“Iya Te…” jawabku yang dibalas tante dengan tersenyum. tante kemudian bangkit dari posisi berbaringnya untuk kemudian duduk, selimutnya jadi turun sehingga memperlihatkan daster yang dia kenakan yang menurutku cukup tipis dan seksi.
Aku lalu berjalan mendekat ke arah tante, membungkuk, dan kemudian memberikan keningku untuk dikecup olehnya.
Muach…
“Selamat tidur sayang… mimpi indah yah…” ucap tante lembut memanjakan telingaku.
“Selamat tidur juga Te…” balasku. Aku sebenarnya ingin berlama-lama di sini, tapi karena tidak ada alasanku untuk berlama-lama, akupun jadi harus segera bergegas kembali ke kamarku agar tante tidak curiga. Sebelum menutup pintu aku melihat ke arah tante lagi. Dia tersenyum manis lagi padaku. Begitu indah. Senyuman tante begitu menenangkan. Aku harap aku akan mimpi indah karena melihat senyumnya itu.

tante biasanya hanya akan mencium keningku saja, tapi sesekali dia juga akan mencium kedua pipiku. Tentunya itu merupakan hal yang biasa jika seorang tante mencium keponakannya. Akupun tidak pernah berpikir macam-macam sebelumnya, bahkan kadang aku risih saat tante menciumku ketika akan berangkat sekolah. Namun semenjak aku mulai mengenal yang namanya bokep, bacaan porno, serta obrolan-obrolan cabul teman-temanku, aku jadi tertarik dengan yang namanya tubuh wanita dewasa. Aku mulai mengoleksi film-film porno dari internet yang ceweknya cantik-cantik. Hingga akhirnya aku sadar kalau ternyata di rumahku aku memiliki wanita yang daya tariknya melebihi wanita manapun yang pernah aku lihat, yang tak lain adalah tanteku sendiri.
Tanteku bernama Ryani. Umurnya 38 tahun. Sehari-hari dia hanya menghabiskan waktu dengan mengurusi rumah. Dia hanya keluar rumah kalau ada perlu berbelanja di warung ataupun mengikuti arisan.
Saat pagi ketika aku akan pergi ke sekolah, pulang sekolah, dan malam hari, tante selalu ada untukku. Sehingga aku merasa kalau tante memang tercipta ada untukku. tante begitu sempurna, dan tampak semakin sempurna karena beliau memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang sangat menarik di mata pria manapun, termasuk aku keponakannya sendiri.
Sebenarnya aku merasa bersalah membayangkan yang tidak-tidak pada tanteku sendiri. Namun sosok tante yang cantik betul-betul menarik perhatianku. Membuat aku semakin hari semakin jatuh hati padanya. Membuatku semakin hari semakin menjadi-jadi membayangkan hal-hal cabul yang tidak pantas dibayangkan seorang keponakan terhadap tantenya sendiri. Apalagi tante termasuk orang yang cuek kalau berpakaian di dalam rumah. Tak jarang aku sering melihatnya hanya mengenakan daster tanpa bra, ataupun keluyuran di dalam rumah dengan hanya mengenakan handuk. Jadilah onaniku semakin menjadi-jadi. Bejatnya diriku, seorang keponakan yang onani sambil membayangkan wajah dan tubuh tantenya sendiri!
Tentunya aku tidak bisa berbuat lebih selain hanya bisa mengkhayal. Oleh karena itu aku sangat menantikan datangnya malam ketika akan tidur, karena di saat itulah aku bisa mendapatkan waktu berduaan dengan tante. Mendapatkan hangatnya ciuman dari tante meskipun hanya ciuman di kening dan di pipi. Namun itu sudah cukup bagiku.
Kalau aku sedang beruntung, aku bisa mendapatkan ciuman berkali-kali dan sangat lama darinya. Kadang aku menemukan tante hanya mengenakan pakaian dalam saja di balik selimutnya. Posisiku kadang hanya berdiri sambil membungkukkan badan menghadapkan keningku ke arah tante, kadang aku duduk di sebelahnya, tapi sesekali aku pernah nekat ikut berbaring di sampingnya ataupun menindih tubuhnya dengan modus ingin bermanja-manjaan. tante biasanya hanya memprotes tubuhku yang sudah semakin berat ketika aku menindihnya. Dan setelah mendapatkan ciuman dari tante, aku pasti akan langsung lanjut onani di dalam kamarku.
Hari demi hari terus berganti. Tiap malam aku selalu mendapatkan ciuman selamat tidur dari tante. Dan tiap malamnya aku selalu memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Aku selalu berusaha mencoba agar setiap malam aku mendapatkan hal yang lebih dari apa yang aku dapatkan di malam-malam sebelumnya. Hal itu tidak sia-sia, karena beberapa malam belakangan ini justru posisi menindih tante yang selalu aku praktekkan. tante tidak pernah mengeluh lagi karena berat badanku. Malah kadang dia merentangkan tangannya seakan menyambutku untuk memeluk dan menindihnya, untuk kemudian mencium kening dan juga pipiku. Tentunya semua itu hanya bisa ku dapatkan kalau tidak ada om di rumah. Kalau ada om di rumah biasanya aku hanya mendapatkan ciuman di ruang keluarga saja dari tante. Om memang jarang pulang karena dia sibuk mengurusi pekerjaannya di luar kota. Pekerjaan omku memang membuatnya jadi sering berpergian baik ke luar kota maupun ke luar negeri, sehingga membuat tanteku jadi sering tidur sendirian saat malam. Karena omku yang jarang di rumah itu jugalah yang membuatku jadi lebih akrab dengan tante dibandingkan dengan omku.
Malam ini, setelah aku selesai mengerjakan PR akupun melangkah ke kamar tante untuk mendapatkan ciuman selamat malam darinya lagi. Selama beberapa malam ini tanteku memang hanya tidur sendirian karena omku sedang ada pekerjaan di luar kota. Malam ini aku ke kamar tante hanya dengan mengenakan celana pendek tanpa memakai celana dalam lagi di baliknya, sama seperti beberapa malam kemaren. Saat pertama kali tante memang agak heran melihatku masuk ke kamarnya dengan hanya memakai celana pendek saja, tapi aku beralasan karena kepanasan saat tidur. Maka jadilah aku selalu datang ke kamarnya tiap malam dengan hanya memakai celana pendek saja seperti saat sekarang ini.
Tok tok tok…
“Te….”
“Iya nDi… masuk”
Akupun masuk. Seperti biasa, kamar tante terasa begitu nyaman dan sejuk karena mempunyai AC. Apalagi dengan keberadaan tante di tempat tidur yang siap memberikan ciuman selamat malam untukku. Tentunya membuatku sangat betah dan selalu ingin kembali lagi ke sini.
“Sudah mau tidur yah?”
“Iya Te…”
“Pe-er nya sudah siap belum?”
“Udah kok Te…” tante tersenyum manis, kemudian dengan isyarat tangan memintaku untuk mendekat ke arahnya. Dadaku lagi-lagi berdebar-debar tak sabar untuk mendapatkan ciuman dari tante. Dengan tak sabaran akupun mendorong pelan tubuh tante hingga tubuhnya tertindih olehku.
“Nnnggghhh… Andi….. Pelan-pelan!” tante menjerit kecil karena perbuatanku. Aku cuek saja. Karena hal ini sebenarnya cukup sering juga kulakukan pada tante, dan semuanya hanya tante balas dengan menjerit kecil seperti itu. Tentunya mendengar teriakan kecil dan manja seperti itu tak membuatku berhenti.
Ku posisikan wajahku sejajar dengan wajah tante, sehingga membuatku dapat merasakan tarikan nafasnya. Kedua tanganku kini berusaha memeluk tubuhnya yang dihimpit olehku. Dadaku bergesekan dengan daster tipisnya, dapat kurasakan kalau dirinya malam ini kembali tidak mengenakan bra seperti malam-malam kemaren. Ah… Sungguh suasana ini begitu erotis bagiku. kontolku berdiri dengan tegangnya. Karena tubuhku yang lebih pendek, kontolku hanya sejajar dengan perutnya. Tentunya tanpa aku yang memakai celana dalam kontolku jadi semakin bebas berdiri di bawah sana. Aku tidak tahu apakah tante merasakannya atau tidak, karena masih ada selimut yang cukup tebal memisahkan bagian bawah tubuh kami.
“Selamat malam sayang…” ucap tante manja sambil menciumku tepat di kening, kemudian kedua pipiku.
Selama ini memang kening dan pipiku saja yang dicium oleh tante. Namun malam ini aku berencana untuk juga mendapatkan ciuman di bibir darinya. Aku penasaran bagaimana rasanya. Aku sudah menahan-nahannya cukup lama, dan aku ingin mendapatkannya malam ini. Tapi tante sepertinya tidak akan mencium bibirku. Jadi ku beranikan saja aku yang memulai, karena aku yakin aku tidak akan dimarahi olehnya. Dengan cepat akupun mengecup bibir tanteku. tante tampak sedikit terkejut. Dia terlihat heran dengan tingkahku, tapi dia tidak marah. Akupun menciumnya sekali lagi, kali ini sedikit lebih lama. Dia masih tetap membiarkan. Aku cium bibirnya lagi dan lagi. Meskipun tante terlihat ragu, namun dia terus membiarkan bibirnya diciumi olehku berkali-kali.
Setelah beberapa kali ku mencium bibirnya, barulah tante angkat suara.
“Kamu kenapa jadi manja banget gini sih?”
“Memang gak boleh ya aku manja-manjaan sama tante?” Aku balik bertanya.
“Boleh sih… tante cuma gak nyangka aja kalau kamu bakal nyium bibir tante. Dulu kan kamu risih banget kalau tante cium, katanya malu anak laki-laki udah gede masih dicium tantenya, tapi sekarang malah nyium bibir tante. Ada apa sih?”
“Ng-nggak kenapa-kenapa kok, setelah Adi pikir-pikir gak ada salahnya deh Andi dicium sama tante sendiri, hehe,” aku sedikit grogi menjawabnya. tante tersenyum kecil. Aku hanya berharap tante tidak curiga.
“Jadi boleh kan Te aku cium bibir tante?” tanyaku lagi.
“Hmm… Ya udah… Boleh… gak papa kok.”
“Nyium bibir tante terus-terusan boleh juga kan? Hehehe,” tanyaku lagi.
“Hihihi, kok kedengarannya agak gimana ya gitu… Hmm… Iya-iya…. Boleh kok sayang, kamu boleh cium bibir tantemu ini selama yang kamu mau dan kapanpun kamu pengen cium” balasnya sambil tersenyum, namun kali ini senyumannya terlihat sedikit nakal di mataku. Seakan sengaja ingin menggodaku. Apakah tante tahu kalau aku punya pikiran nakal terhadapnya? Aku tidak tahu, yang pasti saat ini aku sangat senang karena ternyata tante membolehkan aku mencium bibirnya sesuka hatiku.
Akupun dengan cepat kembali menciumi bibir tante berkali-kali. tante menjerit tertahan, membuatku semakin bersemangat menciumi tante. Dia tidak terlihat ragu-ragu lagi menerima ciumanku. Tentunya tidak hanya bibirnya yang aku cium, tetapi juga kening dan pipinya. Meskipun ciumanku masih sekedar mengecup saja, tapi aku senang karena akhirnya sudah bisa menciumi wajah tante dengan bebas, apalagi dengan posisi menindih tubuhnya seperti ini. tante juga sesekali membalas ciumanku, baik di kening, pipi dan juga bibirku. Tentunya membuat perasaanku makin melayang. Aku horni berat, tapi aku mencoba untuk mengontrol diri agar tidak berbuat lebih jauh dulu agar tante tidak berbalik marah dan menghentikan perbuatanku.
Cukup lama juga ternyata kami saling berciuman. Ini ciuman selamat malam terlama dan paling menyenangkan yang pernah aku dapatkan. Andai tante tidak menyuruhku berhenti dan kembali ke kamarku untuk tidur, aku pasti akan terus menciumi tante hingga pagi.
Saat kembali ke kamarku, akupun melanjutkan dengan onani. Spermaku keluar dengan banyaknya karena membayangkan apa yang barusan terjadi bersama tante. Tentunya ku berharap malam-malam selanjutnya tetap akan seperti ini. Bahkan semoga akan semakin heboh dan lebih panas lagi.
Sejak malam itu aku tidak hanya mendapatkan ciuman di kening dan di pipi saja dari tante, tapi juga di bibirku. Dan juga yang mana biasanya hanya tante yang akan menciumku, kini juga telah berubah dengan aku yang juga aktif menciumi seluruh wajah tante termasuk bibirnya. tante dengan senang hati akan menyambut kedatanganku untuk memberikan bibirnya untuk ku nikmati di atas tempat tidurnya. Kebiasan itu terus kami lakukan setiap malam.
Hingga pada suatu malam saat om tidak pulang, aku meminta tante untuk tidur bareng dengannya. tante setuju.
“Mau di kamar tante atau di kamarmu?” tanya tante.
“Dimana ya bagusnya… di kamar tante aja deh, sejuk ada AC-nya,” jawabku.
“Oke sayang… tante tunggu ya di kamar… buruan selesaikan PR-nya ya,” ucap tante sambil tersenyum manis. Aku gregetan melihat senyum manisnya yang lagi-lagi terlihat nakal itu. Belum apa-apa kontolku sudah ngaceng. Dengan cepat ku selesaikan PR-ku. Aku tidak sabar ingin berduaan dengan tante sepanjang malam.
Saat PR-ku sudah selesai, akupun segera ke kamar tante. Seperti biasa, aku hanya mengenakan celana pendek saja. Saat masuk ke kamarnya. Ku lihat tante sedang duduk di tepi tempat tidur. Dia sudah berganti pakaian dengan gaun tidur berwarna hitam. Sungguh tante terlihat sangat cantik dengan gaun tidur yang dia kenakannya itu. tante terlihat sangat menggairahkan.
“Gaun tante cantik. Gaun baru yah Te?” tanyaku dengan mata terus menikmati memandang indahnya sosok ibu kandungku itu.
“Yup… kamu suka sayang?” tante bertanya sambil berpose dan bergaya di depanku. Seakan mempersilahkan mataku menatap dirinya sepuas-puasnya. Ingin rasanya ku onani saat itu juga. Membuka celanaku dan mengocok kontolku di depan tanteku.
“Su-suka Te… tante cantik, seksi, sempurna” jawabku, tante hanya tertawa kecil mendengar ucapanku. Aku sangat senang tante membeli gaun tidur baru dan khusus mengenakannya untukku. tante masih bergaya di depanku. Aku selalu menahan nafas dan menelan ludah berkali-kali tiap tante berganti pose. Kontolku betul-betul tegak dengan tegangnya dan terlihat sangat menonjol dari celana. Aku yakin tante bisa melihatnya, tapi dia seperti tidak ingin mempedulikan.
“Kamu mau berdiri sampai kapan sih Yang? Yuk buruan bobok” ajak tante manja dengan isyarat tangan menepuk tempat tidur.
“I-iya Te”
Gila… sensasi luar biasa menjalar di seluruh tubuhku karenanya. Ternyata omku memang sangat beruntung bisa menikahi tante, namun sayang dia tidak bisa tiap malam mendapatkan indahnya malam seperti saat ini. Untuk malam ini, tante khusus untukku, keponakannyalah yang akan menikmati tante malam ini.
“Ayo doooong…” ucap tante lagi. Tidak ingin tunggu disuruh lagi, akupun segera menarik tangan tante dan menghempaskannya ke tempat tidur. Ku tindih tubuh moleknya. Kuciumi seluruh wajahnya tanpa ampun, termasuk bibirnya. tante hanya menjerit tertahan sambil sesekali tertawa geli. Membuatku jadi semakin bernafsu padanya.
Aktifitas yang dulunya hanya sekedar kecupan di kening dari tante, kini telah menjadi pencumbuan yang panas antara aku dan tante. Kami saling berciuman. Menciumi wajah satu sama lain. Aku tidak lagi hanya sekedar mencium, lidahku juga bermain-main menjilati halusnya wajah tanteku ini. Wajah tante yang cantik dan putih mulus sampai basah oleh liurku. Kening, pipi, hidung hingga bibirnya kuciumi dan kujilati sepuas hatiku. Lidahku kini juga sudah berani masuk ke dalam mulut tante, berusaha menggapai lidahnya untuk saling berpagutan. Awalnya tante seperti ingin berontak karena terkejut, namun lama kelamaan tantepun membalas permainan lidahku di mulutnya.
“Kamu mau nyium tante sampai kapan sih? Buruan tidur gih” ucap tante akhirnya dengan nafas terengah-engah. Dadanya naik turun. Tampak tante sudah berkeringat. Belahan dadanya terlihat semakin indah karena mengkilap oleh keringat. Ingin rasanya ku benamkan wajahku di sana.
“Lihat… udah jam berapa tuh? Besok kamu sekolah kan?” ucap tante sekali lagi. Ku lihat jam di dinding, ternyata sudah lewat setengah jam lidahku bermain-main di wajah tanteku ini. Tapi tentunya aku masih belum ingin berhenti. Rasanya tidak ada puasnya menikmati indahnya wajah tante.
“Bentar lagi dong Te… Besok kan hari minggu. tante tidur aja duluan, aku masih pengen cium-cium tante”
“Hihihi, mana bisa tante tidur kalau kamu nyiumin tante terus” balas tante sambil menowel keningku. Aku cengengesan mesum dan kembali menciumi seluruh wajahnya.
“Dasar nakal… nnghhh” tante melenguh. Entah karena kesal karena aku tidak mau berhenti atau karena horni, aku tak tahu. Yang jelas kini tante hanya pasrah diciumi keponakannya.
Tubuhku kutempel erat ke tubuh tante sambil terus mengajaknya berciuman. Tanganku menggerayangi punggungnya, kakiku juga mengapit erat kaki tante. Dan tentu saja kontol tegangku yang masih tertutup celana juga bergesek-gesekan dengan perut tante.
Entah bagaimana awalnya, sekarang gaun tidur yang tante kenakan sudah tidak melekat sempurna lagi di tubuhnya. Sambil terus menerima ciumanku, tante juga berusaha untuk membetulkan posisi pakaiannya. Tapi tentunya tidak mudah karena tubuhnya tertindih olehku yang masih terus menciuminya dengan buas. Justru aku yang berusaha membuat gaun tidur tante semakin tak karuan. Hingga akhirnya sebelah buah dadanya terbuka dan terpampang jelas di mataku, barulah kemudian tante mendorong tubuhku dengan kuat.
“Udah ah, bandel” ucapnya cemberut.
Aku bangkit dan duduk di sebelah tante. Ku perhatikan kondisi tante. Pundak tante yang licin sudah terbebas dari tali gaun tidurnya. Sebelah buah dadanya terekspos. Bagian bawah gaun tidurnya juga sudah tersingkap sampai ke perut hingga memperlihatkan celana dalamnya. tante terlihat sangat seksi dengan kondisi seperti ini. Tapi tante segera membetulkan kondisi gaunnya, tentunya aku kecewa.
“Te….”
“Apa?”
“Kalau tante kepanasan, buka aja bajunya… keringatan gitu,” ujarku berharap.
“Huuu… Mau mu… enak aja,” tolak tante sambil memeletkan lidah lalu tertawa kecil, seakan senang membiarkan keponakannya ini mupeng berat terhadapnya.
Aku terus merengek meminta tante melepaskan gaun tidurnya, tapi tante tetap tidak mau membukanya. Akupun akhirnya mengalah. Yah, tidak apalah, aku tidak ingin juga memaksanya saat ini. Bisa-bisa tante nanti marah dan aku tidak diperbolehkan melakukan hal cabul seperti ini lagi padanya.
“Terus sekarang kamu masih pengen nyium tante atau udah mau tidur nih?” tanya tante kemudian. Tentu saja aku masih pengen menciumi tante. Tanpa menjawab akupun kembali menindih tante. Kami kembali lanjut berciuman panas, saling berpagutan dan bermain lidah hingga tubuh kami bermandikan keringat. Kadang aku meminta tante agar tante yang berada di atas. Dengan posisi seperti ini, tanganku lebih leluasa mengelus-elus punggung tante. Bahkan tanganku kini juga sudah berani mengelus pantatnya, tante tidak memprotes. Berkali-kali gaun tidurnya itu kembali ku buat acak-acakan hingga memperlihatkan sepasang ataupun kedua buah dadanya lagi, tapi berkali-kali juga tante akan berhenti menciumku untuk membetulkan gaun tidurnya.
Saat berciuman, aku yang horni berat memberanikan diri membuka celanaku hingga kontolku terbebas. Tentunya tante tahu, dia geleng-geleng kepala melihat ulahku, tapi dia tidak memperotes, dia membiarkan. Rasanya sungguh luar biasa saling berciuman dengan tante telanjang bulat seperti ini. kontol tegangku tidak tertup apa-apa lagi bergesekan dengan perut dan selangkangan tante.
Cukup lama kami bermesraan, saling berciuman yang tidak sepatutnya dilakukan oleh tante dan keponakannya. Yang mana aku telanjang bulat sedangkan tante mengenakan gaun tidur yang seksi. Sungguh tante membuat aku konak bukan main. Kecantikan wajahnya, kemolekan tubuhnya, ditambah dengan gaun yang dia kenakan. Aku mupeng berat, tapi ku coba untuk tidak berbuat lebih dari ini sekarang. Hingga akhirnya tante meminta untuk berhenti karena sudah sangat mengantuk. Aku yang juga sudah mengantukpun setuju. Aku pikir sudah cukup malam ini. Menurutku apa yang baru saja terjadi malam ini sudah sangat luar biasa.
Muachh…
“Selamat tidur Yang… mimpi indah ya”
“Selamat tidur juga tanteku sayang”
Aku penasaran apa yang akan terjadi malam-malam selanjutnya bersama tante. Aku tak sabar ingin mendapatkan ciuman selamat malam lagi darinya.
Karena aku tidak onani, paginya kudapati celanaku basah. Aku mimpi basah. Tentunya membuat tante kesal karena harus membersihkan sprei tempat tidur. Meskipun begitu, tante tidak menolak saat malamnya aku meminta untuk tidur bareng dengannya lagi.
Saat aku masuk ke kamar tante malam harinya, tante sudah siap menungguku di tepi tempat tidur, dia telah mengenakan gaun tidur yang berbeda dari kemaren. Birahiku langsung naik melihat tanteku itu. tante sangat cantik. Akupun langsung menuju tante untuk mengajaknya berciuman. Kami berciuman dengan panasnya seperti kemaren. Saling mencium, membelit lidah, dan menjilati wajah satu sama lain hingga badan kami bermandikan keringat karena panasnya aksi kami.
Aku kemudian menurunkan celanaku dan bertelanjang bulat.
“Dasar…” hanya itu yang dia ucapkan sambil mencubit pelan hidungku. Akupun kembali berciuman dengan tante dengan kontol mengacung bebas.
“Yang…” panggil tante setelah cukup lama kami saling berciuman.
“Ya Te?”
“Sebelum tidur kamu keluarin dulu deh, jangan sampai nanti ngotorin sprei lagi” suruh tante padaku.
“Keluarin apa Te?”
“Spermamuuu…”
“Oh… emang tante udah mau tidur ya?”
“Iya… emang kamu belum? Mau nyium tante sampai kapan sih? Sana, ke kamar mandi”
“I-iya Te…” jawabku. Akupun ke kamar mandi. Ku kocok kontolku sambil membayangkan tante. Bisa saja aku muncrat saat itu juga karena aku memang sangat horni, tapi aku tiba-tiba memikirkan rencana lain. Aku kembali masuk ke dalam kamar tante.
“Sudah keluar Yang?” tanyanya sambil berbaring miring menghadap ke arahku.
“Belum Te…”
“Lho…. kok belum?”
“Gak mau keluar, aku boleh gak keluarin di sini aja? Di depan tante…”
“Duh kamu ini. Ya udah, terserah kamu deh. Asal jangan kena sprei lagi ya”
“Iya…”

Aku senang sekali. Segera ku kocok kontolku. Rasanya gimanaaaa gitu mengocok kontol di depan tante sambil dilihatin olehnya. Sensasinya sungguh luar biasa. Begitu cabul. Aku yakin tante juga merasa aneh melihat aku onani di depannya. Mungkin dia merasa risih, tapi sepertinya sensasi erotis ini justru membuat kami semakin penasaran dan ketagihan melakukan hal tabu yang tidak sepatutnya dilakukan oleh tante dan keponakan seperti yang sedang kami lakukan sekarang.
“Enak nDi?”
“Enak banget Te”
“Kamu suka ya onani di depan tante?”
“Iya… Andi suka ngocok kontol Andi sambil dilihatin tante. tante cantik, seksi, aku pengen ngocok sampai Andi muncratin peju di depan tante,” jawabku vulgar. Darahku berdesir karena akhirnya aku mengucapkan kalimat seperti itu pada tanteku sendiri. tante sendiri hanya tersenyum kecil mendengar ucapanku. Entah apa yang ada di pikirannya mendengar keponakan laki-lakinya berucap seperti itu pada dirinya.
“Sini naik,” pinta tante kemudian. Aku turuti saja permintaannya. Aku naik ke tempat tidur dan berbaring di samping tante. Ku tatap wajah cantik tante yang juga sedang menatapku. Tanganku masih terus mengocok kontolku.
Tiba-tiba tante naik ke tubuhku lalu mencium bibirku dan mengajakku membelit lidah. Aku terkejut. Sensasi yang ku rasakan kini menjadi berkali-kali lipat. Rasanya sungguh luar biasa mengocok kontol sambil berciuman dengan tante sendiri.
“Biar cepat keluar, tante udah ngantuk” ucapnya berbisik. Aku senang sekali tante seakan membantuku onani. Kamipun saling berciuman sambil aku terus mengocok kontolku. Tidak butuh waktu lama, aku yang dari tadi sudah horni kini tak tahan lagi untuk mengeluarkan isi kantong zakarku. tante yang sadar aku akan segera muncratpun melepaskan ciumannya.
“Sana keluarin, jangan sampai ngotorin sprei” suruhnya. Akupun miringkan tubuhku menghadap tepi ranjang.
“Te…. Aku muncraaaat”
“Iyaah, keluarin aja semuanya sayangku. Keluarkan spermamu…” ucap tante manja.
“Ryanniiii… nggghhhh…”
Crooooot… Croooooott…
Sambil menyebut nama tante akupun menembakkan spermaku ke lantai. Begitu banyak dan kental mengotori lantai kamar tanteku. Aku senang sekali. Aku baru saja onani terang-terangan di hadapan tante cantikku dan mengotori lantai kamarnya.
“Udah selesai?”
“Udah”
“Enak nggak?”
“Enak Te… tapi lantainya jadi kotor tuh Te”
“Mana? Coba tante lihat” ucapnya sambil berangsut ke sisi ranjang tempat aku berbaring, tubuhya menindih diriku. Langsung saja ku peluk tubuhnya. tante sepertinya penasaran sebanyak apa sperma yang keluar dari kontol keponakannya karena beronani membayangkan dirinya. Tentu saja sangat banyak, karena ini onani terhebat yang pernah aku rasakan. Tidak ada yang lebih hebat dari pada onani membayangkan ibu kandung sendiri di hadapan beliau langsung.
“Banyak kan Te?” ujarku bangga menunjukkan sperma hasil onaniku barusan pada tante.
“Iya banyak. Duh, sampai berceceran gitu… Tapi gak apa deh lantainya yang kotor, asal jangan spreinya aja yang kotor”
“Berarti besok boleh lagi dong Te?” tanyaku antusias.
“Yeee… mau nya…” ucapnya gemas sambil menarik-narik hidungku.
“Hehehe”
“Itu udah semua kan? Jangan sampai mimpi basah lagi ya nanti”
“Iya Te…”
“Ya udah, tidur lagi sana” ucap tante turun dari tubuh telanjangku.
“Tapi besok boleh lagi kan Te?” tanyaku sekali lagi karena penasaran. tante tidak menjawab. Dia hanya tersenyum.
“Selamat malam sayang, muach…” ucapnya sambil mengecup keningku, lalu menyelimuti tubuhnya dan memunggungiku. Arghh… aku sungguh gemas. Beruntungnya aku punya tante yang baik hati.
Sejak saat itu, setiap om tidak pulang ke rumah, aku akan selalu meminta tante untuk tidur dengannya. tante tidak keberatan. Dia selalu menyambutku dengan senang hati saat aku masuk ke kamarnya. tante selalu siap dengan gaun tidur yang dia kenakan. Bahkan sekali seminggu tante pasti akan mengenakan gaun tidur baru yang baru saja dia beli, yang mana khusus tersaji untuk dilihat oleh keponakannya seorang.
Ketika masuk ke kamar tante, aku akan langsung membuka celanaku dan bertelanjang bulat. Kalau tidak tahan, aku akan langsung mencium tante sambil berdiri, barulah kemudian mengajak tante berciuman dan membelit lidah di ranjang. Berguling-gulingan, berpelukan hingga tubuh kami banjir keringat. Setelah puas, aku kemudian akan mengocok kontolku dengan ditemani tante sampai aku memuncratkan spermaku ke lantai. Hal tersebut terus kami lakukan setiap malam.
Gaun tidur yang tante kenakan biasanya akan acak-acakan karena ulahku hingga memperlihatkan susu dan celana dalamnya. Gaun tidurnya menggantung begitu saja di perut tante. Sekarang tante tampaknya sudah capek harus membetulkan gaun tidurnya lagi. Dia kini pasrah saja susunya menjadi santapan mata keponakan laki-lakinya. Pernah aku mencoba untuk menyentuh susunya, tapi tanganku langsung ditepis tante. Dia ternyata masih tidak mau aku melakukan hal yang lebih jauh.
Pada suatu malam, saat kami sedang asik-asiknya berciuman hingga keringatan. Aku yang terlalu bernafsu menjamah tubuh tante membuat gaun tidur yang tante kenakan menjadi robek, padahal itu gaun tidur yang baru saja dia beli, dan ku tahu harganya cukup mahal.
“Duh, robek kan…. kamu sih Yang…” ujar tante cemberut. Bagian yang robek itu membuat susu tante terpampang bebas. Membuat tante terlihat sangat menggairahkan.
“Maaf deh Te…” ucapku. tante menatap lama padaku. Matanya memancarkan sesuatu. Aku tahu kalau tante akan melakukan sesuatu yang luar biasa.
Benar saja, tante dengan gerakan perlahan mulai membuka gaun tidurnya. Dia lepaskan pakaiannya itu dari tubuhnya, kemudian dengan sembarang melempar gaunnya itu ke sudut kamar. Sekarang tante nyaris telanjang bulat! Hanya mengenakan celana dalam saja! Aku semakin birahi melihat tanteku ini.
“Te…” panggilku dengan nafas tertahan. Aku begitu takjub dengan pemandangan ini. tante begitu mempesona. Susunya begitu indah menggantung. Urat-urat hijau begitu kontras dengan kulit susu tante yang putih. Begitu memanjakan mataku, keponakan laki-lakinya ini.
“Bajunya robek, gak bisa dipakai lagi” ucap tante santai. Sungguh menggemaskan, langsung ku tarik tante dan menindih tubuhnya lagi. Kami saling berciuman lagi. Kali ini tubuh telanjangku bergesekan langsung dengan tubuh tante yang juga nyaris telanjang. Dadaku berhimpitan dengan susunya. Puting susunya terasa menekan dadaku. Tanganku kini dengan bebasnya menggerayangi punggung tante. Sungguh sensasi yang luar biasa bisa bermesraan dan bertelanjang berdua dengan tanteku yang cantik dan seksi. Aku begitu horni.
Semakin lama aku semakin tak kuat, tanganku sudah menggerepe-gerepe kemana-mana hingga meremas pantatnya yang terbalut celana dalam. Bau tubuh telanjang tante yang berkeringat betul-betul membuatku tak tahan. Akupun akhirnya beranjak ke tepi ranjang dan menumpahkan spermaku ke lantai. Barulah setelah itu kami tidur.

Aktifitas seperti itu selalu kami lakukan setiap malam. Kadang tante menantiku dengan gaun tidurnya, tapi kadang menantiku dengan hanya memakai celana dalam. Akupun kini setiap ke kamar tante sudah tidak memakai apa-apa lagi dari kamar. Kalau saat itu tante sedang memakai gaun tidur sedangkan aku ingin tante bertelanjang, maka akupun meminta tante melepaskan gaun tidurnya, bahkan membantu menelanjangi tante. tante tidak menolak. Dia membiarkan keponakan lelakinya sendiri menelanjangi dirinya. Entah apa jadinya kalau om mengetahui kalau istrinya ditelanjangi, dijamah, dan cium habis-habisan oleh keponakannya sendiri di atas tempat tidurnya. Entah apa jadinya kalau lantai kamarnya selalu kotor oleh sperma keponakan laki-lakinya yang baru saja bermain-main dengan tubuh istrinya.
tante kini juga sudah tidak menepis tanganku yang selalu berusaha menyentuh susunya. Dia sepertinya sudah capek mengurus tanganku yang selalu liar menggerepe tubuhnya. Tangankupun kini dapat menikmati tubuhnya dengan bebas. Meremas susunya, memilin puting susunya, serta menarik-narik puting susu tanteku ini. tante selalu melenguh manja tiap aku mempermainkan susunya. Jelas dia terbawa nafsu. Baik aku maupun tante sangat menikmati permainan erotis yang sangat tabu ini. Yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang tante dengan keponakan laki-lakinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar